Jakarta - Eksekutifmedia.com. Try Sutrisno, jenderal bintang empat yang pernah mendampingi Soeharto di puncak kekuasaan, mengembuskan napas terakhirnya di Jakarta.
Wakil Presiden keenam Republik Indonesia itu meninggal dunia pada Senin (2/3) pukul 06.58 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.
Setelah prosesi pemandian di RSPAD, jenazah rencananya akan dibawa ke rumah duka di Jalan Purwakarta Nomor 6, Menteng, Jakarta Pusat.
Kabar wafatnya Try Sutrisno diwartakan Antara melalui pesan berantai atas nama keluarga dan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Informasi tersebut turut dibenarkan sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara dan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
"Mohon dimaafkan segala kesalahan dan khilaf almarhum semasa hidup. Semoga amal ibadah Almarhum diterima di sisi Allah SWT. Kami mohon doa dari Bapak Ibu sekalian agar Almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Amin, Amin, Amin YRA," demikian petikan pesan dari pihak keluarga.
JEJAK KARIER JENDERAL TRY SUTRISNO
Mendiang Try Sutrisno menjabat sebagai Wakil Presiden RI periode 1993–1998, mendampingi Presiden Soeharto di masa akhir Orde Baru. Ia lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935.
Sebagai perwira militer, langkahnya dimulai saat diterima sebagai taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada 1956. Setahun kemudian, ia terjun dalam operasi militer menghadapi Pemberontakan PRRI di Sumatra.
Pada 1962, ia terlibat dalam Operasi Pembebasan Irian Barat. Dalam periode itu pula ia mulai mengenal Soeharto. Ia dipercaya menjadi ajudan Soeharto pada tahun 1974 dan karirnya meroket setelah itu.
Pangkatnya naik menjadi Letnan Jenderal TNI pada Agustus 1985 ketika ia diangkat sebagai Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Sepuluh bulan berselang, Juni 1986, Try Sutrisno dipercaya menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD).
Puncak karier militernya dicapai pada 1988 saat ia ditunjuk sebagai Panglima ABRI, menggantikan L.B. Moerdani.
Melalui Sidang Umum MPR 1993, Try Sutrisno terpilih sebagai Wakil Presiden RI. Masa jabatannya berakhir pada 1998, digantikan B.J. Habibie.
Selepas reformasi, Try mendirikan Partai Keadilan dan Persatuan (PKP) pada 1999. Hingga akhir hayatnya, ia menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina PKP serta Wakil Ketua Dewan Pengarah BPIP. (MTM)
0 Komentar