Lombok Tengah - Eksekutifmedia.com. Investasi di Lombok Tengah menunjukkan ketimpangan antara sektor pariwisata dan sektor riil. Di tengah pesatnya pembangunan kawasan Mandalika, sektor kelautan dan perikanan masih minim sentuhan modal.
Padahal, potensi seperti rumput laut, udang vaname, tembakau, hingga garam menjadi sektor riil yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat lokal. Namun, hingga kini sektor tersebut masih berjalan dengan skema investasi minim.
Di teluk-teluk pesisir, hamparan rumput laut menjadi tumpuan hidup ribuan nelayan. Petani lokal mampu menyuplai bahan baku industri, meski masih mengandalkan cara tradisional.
Minimnya investasi pada hilirisasi membuat komoditas tersebut hanya dijual dalam bentuk mentah. Kondisi ini menyebabkan nilai tambah justru dinikmati oleh luar daerah.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Lombok Tengah Dalilah mengatakan sektor seperti tembakau, rumput laut, udang vaname dan garam belum terkelola dengan baik.
“Tembakau, rumput laut, udang vaname dan garam menjadi sektor yang belum terkelola dengan baik. Susah-susah gampang ya, misal tembakau tidak banyak variasi produk hanya rokok namun ini kita coba hilirisasi melalui Disperindag,” ucapnya.
Setali tiga uang, budi daya udang vaname di Lombok Tengah memiliki daya saing ekspor tinggi. Namun, pengembangannya masih didominasi tambak rakyat dengan modal mandiri.
Kurangnya investasi pada infrastruktur pendukung seperti cold storage dan akses pembiayaan membuat petambak kerap tak berdaya saat harga pasar tidak menentu.
Sementara itu, di sektor garam, petani masih bergelut dengan cara konvensional yang bergantung pada cuaca. Padahal, sentuhan investasi pada teknologi pemurnian dapat meningkatkan kualitas garam rakyat menjadi garam industri.
“Sektor-sektor ini seperti garam misalnya, memerlukan pengusaha yang memiliki pengalaman bisnis yang bagus. Tantangan pasar ini masih belum bisa, produk dibuat dengan value tinggi tetapi konsumen terbatas,” jelasnya.
Terpisah, Wakil Bupati Lombok Tengah M Nursiah menegaskan pengembangan sektor riil telah masuk dalam visi-misi pemerintahannya yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Ia menekankan pertumbuhan ekonomi daerah tidak boleh bergantung pada satu sektor.
“Ini sudah menjadi perhatian kami dalam ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Potensi sektor riil seperti pertanian, perikanan pembudidayaan, dan peternakan itu sangat besar,” ujar Nursiah. (MTM)
0 Komentar