Generasi Muda Mulai Lelah dengan AI

Tangerang - Eksekutifmedia.com.  PEMANDANGAN yang terjadi dalam upacara wisuda Universitas Central Florida beberapa waktu lalu, mungkin akan dikenang sebagai salah satu simbol penting zaman ini. 

Ketika seorang pembicara menyampaikan optimisme tentang kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) sebagai revolusi industri berikutnya, sebagian wisudawan justru menyambutnya dengan sorakan seperti menandakan resistensi. Beberapa kali pidato terhenti sebelum akhirnya dapat dilanjutkan kembali. 

Sekilas, kejadian itu tampak seperti ekspresi spontan anak muda yang tidak setuju terhadap suatu pandangan. 

Namun jika dicermati lebih jauh, peristiwa tersebut sesungguhnya merefleksikan sesuatu yang lebih dalam. 

Bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan kelelahan terhadap percakapan yang seolah menjadikan teknologi sebagai pusat dari segala hal. 

Selama beberapa tahun terakhir, generasi muda hidup di tengah gelombang narasi yang nyaris tidak pernah berhenti tentang AI. Mereka mendengar bahwa AI akan mengubah dunia kerja. Mereka membaca bahwa sejumlah profesi akan hilang.

Mereka melihat perusahaan-perusahaan besar melakukan efisiensi dengan alasan otomatisasi. Mereka juga dihadapkan pada pertanyaan yang sama berulang kali terkait jurusan apa yang aman dari AI, pekerjaan apa yang tidak akan tergantikan, dan keterampilan apa yang masih relevan di masa depan.

Dalam situasi seperti itu, wajar jika sebagian mahasiswa mulai merasa lelah dan cemas. Namun yang menarik, kecemasan mereka tampaknya bukan semata-mata tentang AI itu sendiri. 

Yang lebih mengemuka adalah kegelisahan mengenai posisi manusia di tengah perubahan yang berlangsung begitu cepat. 

Survei Harvard Institute of Politics pada 2025 menunjukkan bahwa mayoritas anak muda Amerika memandang AI sebagai ancaman terhadap prospek pekerjaan mereka. 

Pada saat yang sama, semakin banyak mahasiswa yang mulai mencari bidang studi yang dianggap lebih tahan terhadap otomatisasi. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa AI tidak lagi dipandang sekadar sebagai teknologi baru. Bagi banyak anak muda, AI menjadi simbol ketidakpastian masa depan. 

Kecemasan seperti ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru dalam sejarah. Ketika mesin-mesin industri mulai menggantikan pekerjaan manual pada abad ke-19, muncul ketakutan bahwa manusia akan kehilangan perannya. Ketika komputer masuk ke kantor-kantor pada akhir abad ke-20, kekhawatiran serupa kembali muncul. (MTM)

0 Komentar