Eksekutifmedia.com. Tanpa alas kaki dan tanpa sepatah kata, ribuan orang berjalan mengiringi pusaka dalem mengelilingi Pura Mangkunegaran. Inilah suasana Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Sura, tradisi tahunan yang tidak hanya menjadi pawai budaya, tetapi juga laku spiritual untuk menyambut Tahun Baru Jawa.
Dalam prosesi ini, peserta berjalan dalam hening. Keheningan, pusaka, doa, dan langkah tanpa alas kaki menjadi bagian dari refleksi untuk menata diri saat memasuki tahun yang baru.
Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Sura juga memperlihatkan bagaimana tradisi Mangkunegaran terus dijaga. Di tengah perubahan zaman, prosesi ini tetap menjadi ruang pertemuan antara warisan leluhur, kehidupan hari ini, dan harapan untuk masa depan.
Tradisi yang dijaga turun-temurun
Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Sura merupakan tradisi yang diselenggarakan setiap tahun oleh Pura Mangkunegaran sebagai peringatan pergantian tahun baru Jawa.
Berbeda dari perayaan biasa, kirab ini memiliki suasana sakral dan terikat pada tata cara yang dijaga turun-temurun. Aturan tersebut mencakup waktu penyelenggaraan, urutan prosesi, busana adat, hingga laku tapa bisu yang dijalankan peserta.
Dalam Kirab Pusaka Dalem 1 Sura JE 1958 atau 2024 Masehi, G.P.H. Paundrakarna Sukmaputra Jiwasuryanegara bertindak sebagai cucuk lampah, yaitu pemimpin barisan yang membuka jalannya kirab.
Prosesi tersebut mengelilingi Pura Mangkunegaran dengan rute melewati Koridor Ngarsopuro dan sebagian Jalan Slamet Riyadi. Dalam kirab itu, enam pusaka dalem milik Mangkunegaran dibawa dalam prosesi yang diikuti abdi dalem dan masyarakat umum.
Kehadiran masyarakat menunjukkan bahwa Kirab Pusaka Dalem tidak hanya menjadi ritual internal istana, tetapi juga bagian dari ingatan budaya warga Surakarta dan sekitarnya.
Pusaka bukan sekadar benda
Inti dari Kirab Pusaka bukanlah pameran senjata atau artefak kuno. Dalam tradisi Jawa, pusaka dipandang sebagai benda yang memiliki nilai sejarah, simbolik, spiritual, dan kultural.
Pusaka-pusaka yang dikirabkan dihormati karena dianggap menyimpan prabawa atau daya kewibawaan dalam kepercayaan budaya Jawa.
Penghormatan terhadap pusaka dimaknai sebagai bagian dari upaya menjaga warisan leluhur dan memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam tradisi Jawa, pusaka tidak selalu terbatas pada benda fisik seperti keris, tombak, atau gamelan. Karya seni, gending, tarian, hingga tempat peninggalan leluhur juga dapat dipahami sebagai pusaka apabila memiliki nilai penting bagi identitas dan ingatan budaya.
Yang menjadikannya pusaka bukan hanya usia atau bentuk fisiknya, tetapi juga nilai sejarah, makna simbolik, serta penghormatan yang menyertainya. Karena itu, pusaka tidak sekadar dipandang sebagai benda, melainkan sebagai penghubung antara manusia, leluhur, dan nilai-nilai yang diwariskan.
Hening sebagai inti prosesi
Selama kirab berlangsung, peserta tidak diperbolehkan berbicara, bersenda gurau, atau merokok. Keheningan ini bukan sekadar aturan, tetapi bagian penting dari laku tapa bisu.
Tapa bisu dimaknai sebagai bentuk pengendalian diri. Dalam laku ini, peserta diajak menahan ucapan, menjaga pikiran, dan memusatkan batin pada doa serta perenungan.
Keheningan dalam kirab dapat dipahami sebagai doa kolektif yang berjalan. Sepanjang perjalanan, peserta tidak hanya mengiringi pusaka, tetapi juga menjalani laku batin untuk memohon keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan.
Berjalan tanpa alas kaki mengelilingi Pura Mangkunegaran juga memiliki makna simbolik. Laku ini mencerminkan kerendahan hati, kesederhanaan, dan kedekatan manusia dengan bumi.
Setiap langkah dalam kirab tidak hanya menjadi perpindahan fisik dari satu titik ke titik lain. Langkah itu juga menjadi bagian dari refleksi diri untuk menyambut tahun baru dengan hati yang lebih tenang dan tertata.
Kirab, Udik-Udik, dan Semedi
Rangkaian 1 Sura Mangkunegaran tidak berhenti pada kirab. Setelah rombongan kembali ke Pura Mangkunegaran, prosesi dilanjutkan dengan udik-udik, yaitu penyebaran uang koin sebagai simbol berbagi berkah, rasa syukur, dan harapan kemakmuran.
Tradisi udik-udik memperlihatkan bahwa perayaan tahun baru Jawa tidak hanya dimaknai sebagai laku pribadi, tetapi juga sebagai momen berbagi kepada sesama.
Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan semedi atau meditasi hening di lingkungan Pura Mangkunegaran. Dalam suasana tenang, doa dan harapan dipanjatkan untuk menyambut tahun yang baru.
Kirab, udik-udik, dan semedi menjadi bagian dari rangkaian yang saling berkaitan. Kirab mengajak manusia berjalan dalam hening, udik-udik menghadirkan semangat berbagi, sedangkan semedi menjadi ruang untuk memusatkan batin dan doa.
Makna Atita, Atiki, dan Anagata
Dalam tradisi Mangkunegaran, peringatan bulan Sura juga dapat dibaca melalui nilai atita, atiki, dan anagata. Ketiganya berkaitan dengan kesadaran manusia terhadap waktu.
Atita dimaknai sebagai masa lalu, yaitu ruang untuk mengingat jejak kehidupan dan belajar dari pengalaman. Atiki berarti masa kini, yakni kesadaran untuk hadir sepenuhnya dalam kehidupan yang sedang dijalani.
Sementara itu, anagata merujuk pada masa depan yang disambut dengan doa, harapan, dan laku kebaikan.
Nilai tersebut terasa dalam rangkaian Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Sura. Melalui kirab, manusia diajak menengok warisan leluhur. Melalui semedi, manusia diajak hadir dalam keheningan masa kini. Melalui doa dan udik-udik, manusia diajak menyongsong masa depan dengan harapan baik.
Karena itu, Kirab Pusaka Mangkunegaran bukan sekadar arak-arakan pusaka. Tradisi ini menjadi ruang refleksi untuk menata hubungan manusia dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Sura merupakan salah satu tradisi penting di Pura Mangkunegaran yang digelar untuk menyambut Tahun Baru Jawa.
Prosesi ini dijalankan melalui kirab pusaka, tapa bisu, berjalan tanpa alas kaki, hingga rangkaian udik-udik dan semedi.
Melalui berbagai rangkaian tersebut, Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Sura menjadi bagian dari tradisi budaya Jawa yang terus diselenggarakan setiap tahun di Mangkunegaran. (MTM)
0 Komentar