Buru - Eksekutifmedia.com. Kementerian Agama (Kemenag) melepas keberangkatan peserta Program Ustadz Garis Depan (UGD) yang akan bertugas di Pulau Buru, Maluku. Pelepasan berlangsung di Aula Syeikh Quro, Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath, Kota Sukabumi, Jawa Barat.
Program Ustadz Garis Depan digagas Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath. Program ini menempatkan para ustaz di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) untuk memperkuat layanan keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Program ini sudah berjalan hingga Angkatan ke-8. Peserta akan ditempatkan di delapan desa di Pulau Buru, yaitu: Desa Widit, Dava, Gogorea, Basalale, Ohilahin, Parbulu, Waeflan, dan Waetele.
Sampai angkatan ke-7, program ini antara lain telah menerjunkan 63 ustadz, membina 10 desa, menyalurkan 150 beasiswa pendidikan, membina 19 lembaga pendidikan, serta berkontribusi dalam pembangunan dan pembinaan masjid di wilayah pengabdian.
Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Muchlis Muhammad Hanafi, mengungkapkan bahwa pengiriman dai ke wilayah 3T merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan, keumatan, sekaligus kebangsaan. Menurutnya, para dai tidak hanya membawa misi dakwah, tetapi juga menjadi perekat harmoni sosial dan penguat persatuan bangsa di tengah keragaman masyarakat Indonesia.
Menurut Muchlis, program Ustadz Garis Depan memiliki semangat yang sejalan dengan program Dai 3T yang dijalankan Kemenag. Keduanya sama-sama menghadirkan layanan keagamaan, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat hingga ke pelosok negeri yang membutuhkan pendampingan berkelanjutan.
"Pengiriman dai ke wilayah 3T merupakan bentuk tanggung jawab keagamaan, keumatan, dan kebangsaan. Mereka hadir untuk menguatkan masyarakat, membangun optimisme, serta merawat persatuan Indonesia dari pinggiran," ujar Muchlis di Sukabumi.
Muchlis menjelaskan, pada Ramadan 1447 H, Kemenag mengirim sekitar 2.000 Dai 3T ke berbagai daerah di Indonesia. Kehadiran mereka menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan layanan keagamaan sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat di wilayah yang akses pembinaannya masih terbatas.
Ia menilai keberadaan Ustadz Garis Depan menjadi contoh kolaborasi yang baik antara pesantren, masyarakat, dan pemerintah dalam memperluas jangkauan dakwah yang berdampak langsung bagi umat.
"Dakwah yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah dakwah yang menghadirkan keteladanan, solusi, dan manfaat. Dai harus menjadi penggerak harmoni, bukan sekadar penyampai ceramah," katanya.
Muchlis juga mengingatkan para peserta ustadz mengedepankan pendekatan kemanusiaan dalam menjalankan dakwah. Menurutnya, para dai akan berhadapan dengan realitas sosial dan budaya yang beragam sehingga dibutuhkan kebijaksanaan, kesabaran, serta kemampuan membangun hubungan yang baik dengan masyarakat setempat.
Ia menjelaskan, sebagian wilayah pengabdian masih memiliki tradisi dan praktik budaya yang berbeda, termasuk keberadaan penganut agama lokal. Karena itu, pendekatan yang digunakan tidak boleh bersifat menghakimi, melainkan mengedepankan pendampingan, pemberdayaan, dan keteladanan yang dilakukan secara bertahap.
"Utamakan kemanusiaan. Rangkul masyarakat dengan kasih sayang, bangun kepercayaan, lalu hadirkan alternatif yang lebih baik melalui pendidikan, pembinaan, dan pemberdayaan. Dakwah harus membawa kemaslahatan," tegasnya.
Pesan tersebut sejalan dengan arahan Menteri Agama Nasaruddin Umar, yang dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya dakwah yang menebarkan rahmat, memperkuat persaudaraan, serta menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang majemuk. Karena itu, para dai diharapkan mampu menjadi agen harmoni yang memperkuat kohesi sosial sekaligus menjaga keutuhan bangsa. (MTM)
0 Komentar