Bupati Lombok Tengah: Revitalisasi Sade Harus Jaga Nilai Sejarah dan Keselamatan

Lombok Tengah - Eksekutifmedia.com. Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri mengatakan, proses penataan kembali Kampung Adat Sade pascakebakaran harus dilakukan secara matang dengan tetap mempertahankan nilai sejarah dan budaya masyarakat setempat.

Menurutnya, pemerintah tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak karena kawasan tersebut memiliki nilai historis bagi masyarakat Sade. Setiap rencana pembangunan kembali harus terlebih dahulu dibahas bersama keluarga dan masyarakat.

“Kalau nanti keluarga yang ingin mengajukan diri, keluarga juga tidak bisa semau mereka. Harus kita diskusikan. Karena ini adalah tempat bersejarah bagi mereka. Kita juga tidak punya tujuan yang tidak baik,” kata Pathul.

Ia menjelaskan, salah satu pembahasan yang muncul adalah keinginan masyarakat untuk tetap menggunakan ilalang sebagai bagian dari bangunan rumah adat. Namun, penggunaan bahan tersebut juga harus mempertimbangkan faktor keselamatan karena mudah terbakar.

“Katanya harus tetap pakai ilalang, pakai pengganti ilalang. Persoalannya kan dia lebih cepat tersulut terbakar. Tentu pemadam kebakaran harus sudah kita antisipasi, stand by-nya di mana, seperti apa, dan lain sebagainya. Harus dipikirkan, harus didesain,” ujarnya.

Pathul menyebut pemerintah ingin proses revitalisasi dilakukan secepat mungkin. Namun, berbagai aspirasi masyarakat harus terlebih dahulu diselaraskan agar pembangunan kembali tidak menghilangkan karakter dan identitas kawasan adat Sade.

“Inginnya sih cepat. Namun tentu harus kami pikirkan dan bermuara pada diskusi. Karena berbagai macam keinginan masyarakat itu harus bisa kita akomodasi,” katanya.

Selain revitalisasi rumah adat, Pathul juga mengusulkan adanya museum kecil di kawasan tersebut. Museum itu nantinya dapat menjadi tempat untuk memperlihatkan sejarah rumah adat Sade, termasuk bentuk awal bangunan hingga kondisi kawasan setelah kebakaran.

“Mudah-mudahan nanti dibuatkan satu museum di sini. Orang bisa melihat dari dekat, ini loh bentuk awal sejarah rumah adat ini, termasuk sampai hari ini terbakar juga. Itu kan bisa dilihat di museum kecil, misalnya,” ungkapnya.

Menurut Pathul, keberadaan museum tersebut penting agar sejarah kawasan Sade tetap terdokumentasi dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang.

Ia menambahkan, aspek cagar budaya juga harus menjadi perhatian dalam proses revitalisasi. Penataan kawasan Sade ke depan diharapkan tidak sekadar membangun kembali bangunan yang terbakar, tetapi juga menjaga warisan leluhur dan nilai budaya yang melekat di dalamnya.  (MTM)

0 Komentar