Polwan Polda Maluku Dampingi Anak Korban Konflik di Pengungsian, Bantu Pulihkan Kondisi Psikologis


Jakarta - Eksekutifmedia.com. Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) tidak hanya fokus menjaga keamanan di tengah masyarakat terdampak konflik di Patahuwe-Lisabata, Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), tetapi juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis warga, khususnya anak-anak yang berada di lokasi pengungsian.

Melalui personel Polisi Wanita (Polwan) Polda Maluku, Polwan Polres SBB, serta Bagian Psikologi Biro SDM Polda Maluku, Polri menggelar kegiatan Psychological First Aid (PFA) di tenda pengungsian Desa Patahuwe.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya kemanusiaan untuk membantu anak-anak menghadapi tekanan psikologis akibat situasi konflik, sekaligus menciptakan suasana yang aman dan nyaman selama berada di pengungsian.

Sebanyak 57 anak, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA, mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 10 anak PAUD, 30 siswa SD, 15 siswa SMP, dan dua siswa SMA.

Pendampingan dilakukan dengan pendekatan ramah anak melalui berbagai aktivitas, di antaranya relaksasi, Brain Gym, Touch for Health, serta permainan. Kegiatan ini dirancang untuk membantu anak-anak mengurangi ketegangan, membangun interaksi positif, dan memberikan ruang bagi mereka untuk berekspresi di tengah situasi yang sedang dihadapi.

Selain pendampingan psikologis, personel Polri juga membagikan makanan ringan kepada anak-anak sebagai bentuk perhatian dan kepedulian kepada masyarakat terdampak konflik.

Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian adalah pembuatan Pohon Harapan. Dalam kegiatan tersebut, anak-anak diajak menuliskan harapan mereka pada kertas sticky note, kemudian menempelkannya pada pohon yang telah disiapkan.

Dari tulisan-tulisan sederhana itu, terlihat harapan anak-anak untuk terciptanya perdamaian dan keinginan agar dapat kembali ke kampung halaman.\

Salah seorang anak asal Patahuwe menuliskan harapannya agar hubungan damai dengan saudara mereka dari Lisabata dapat kembali terwujud. “Harap saya bisa melihat kita berdamai selalu dengan basudara Lisabata.”

Harapan lainnya disampaikan seorang anak yang ingin keluarganya segera kembali ke kampung halaman, rumah mereka dibangun kembali, dan masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai. “Harapan dari aku semoga kami semua bisa pulang ke kampung halaman dan semoga rumah kami bisa bangun kembali dan kita semua hidup dengan damai, Amin.”

Harapan tersebut menunjukkan bahwa di tengah situasi konflik dan keterbatasan di pengungsian, anak-anak tetap membutuhkan ruang yang aman untuk bermain, belajar, berinteraksi, dan menyampaikan perasaan mereka.

Karo SDM Polda Maluku Kombes Pol Dicky Irawan Kesuma mengatakan, pendampingan psikologis merupakan bagian dari kehadiran Polri dalam memberikan perlindungan secara menyeluruh kepada masyarakat terdampak konflik.

“Polri hadir bukan hanya untuk menjaga keamanan, tetapi juga memastikan masyarakat yang terdampak, khususnya anak-anak, mendapatkan dukungan dan pendampingan agar mereka dapat melewati situasi ini dengan lebih tenang. PFA menjadi salah satu bentuk kehadiran Polri untuk membantu memulihkan rasa aman dan membangun kembali kepercayaan diri anak-anak,” ujar Dicky.

Menurutnya, kondisi psikologis anak-anak perlu mendapat perhatian karena pengalaman berada dalam situasi konflik dapat memengaruhi rasa aman dan kenyamanan mereka. “Kita ingin anak-anak tetap memiliki ruang untuk bermain, belajar, berekspresi, dan menyampaikan harapan. Pesan damai yang mereka tuliskan melalui Pohon Harapan menunjukkan bahwa anak-anak pada dasarnya menginginkan kehidupan yang aman, kembali ke rumah, dan hidup berdampingan dengan basudara mereka,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, Polri tidak hanya hadir dalam aspek pengamanan, tetapi juga memberikan dukungan kemanusiaan kepada kelompok rentan, khususnya anak-anak, agar mereka tetap memiliki rasa aman dan harapan selama berada di pengungsian. (MTM)

0 Komentar