Perkuat Peran Guru, Cambridge Rekomendasikan 8 Prinsip Integrasi AI di Sekolah

Jakarta - Eksekutifmedia.com. Director of Research, English, Cambridge University Press and Assessment, Dr Evelina Galaczi, menekankan pentingnya melibatkan guru dalam penyusunan kebijakan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sekolah. Menurutnya, guru perlu mendapat dukungan pembelajaran profesional yang berkelanjutan agar mampu memanfaatkan AI secara efektif dan bertanggung jawab dalam proses pembelajaran.

“Kebijakan sering kali kesulitan mengikuti pesatnya perkembangan teknologi, sementara guru dituntut untuk terus beradaptasi. Kondisi ini telah menciptakan kesenjangan pengetahuan dan pendekatan yang tidak konsisten dalam pendidikan dan adopsi AI,” ujar Galaczi dalam keterangannya, Kamis (15/10/2026).

Rekomendasi tersebut tertuang dalam laporan terbaru Cambridge University Press & Assessment berjudul Shaping AI Policy and Practice in English Language Teaching. Laporan ini merumuskan delapan prinsip untuk mendukung integrasi AI generatif (GenAI) yang efektif dan bertanggung jawab di sekolah-sekolah di Indonesia maupun negara lainnya.

Galaczi mengatakan, guru di berbagai negara, termasuk Indonesia, kerap harus membangun sendiri pengetahuan praktis mengenai penerapan AI yang bertanggung jawab karena kebijakan belum sepenuhnya mampu mengikuti perkembangan teknologi.

Karena itu, Cambridge merekomendasikan agar pembuat kebijakan memperkuat investasi pada pengembangan profesional guru. Selain itu, guru dan peserta didik perlu dilibatkan dalam proses perancangan, pengadaan, penerapan, dan evaluasi perangkat GenAI agar kebijakan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan nyata di ruang kelas.


Laporan tersebut disusun berdasarkan praktik para pengajar bahasa Inggris di berbagai negara yang telah menggunakan GenAI, serta merujuk pada penelitian Cambridge sebelumnya mengenai AI dan pemanfaatannya oleh guru.

Delapan prinsip integrasi AI di sekolah

Cambridge merumuskan delapan prinsip utama untuk mendukung pemanfaatan AI secara efektif di lingkungan pendidikan.

Pertama, melibatkan guru dan peserta didik dalam tata kelola AI. Keduanya perlu berkontribusi dalam pengambilan keputusan terkait penerapan dan evaluasi perangkat GenAI agar kebijakan yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Kedua, berinvestasi dalam pengembangan profesional guru secara berkelanjutan. Guru membutuhkan dukungan untuk mengevaluasi perangkat AI secara kritis, menentukan strategi pedagogis yang tepat, menyesuaikan teknologi dengan tujuan pembelajaran, serta mengajarkan penggunaan AI yang bertanggung jawab.

Ketiga, memasukkan literasi AI kritis ke dalam kurikulum. Peserta didik perlu memiliki kemampuan untuk mempertanyakan keluaran AI, mengenali bias dan ketidakakuratan, serta memahami kapan AI dapat membantu pembelajaran dan kapan penggunaannya tidak tepat.


Keempat, mereformasi kerangka kurikulum dan penilaian. Sistem pembelajaran dan asesmen perlu memperhatikan proses belajar, pemanfaatan umpan balik, refleksi peserta didik, dan kemampuan berpikir mandiri, bukan hanya menilai hasil akhir.

Kelima, memprioritaskan hasil pendidikan yang berpusat pada manusia. Kebijakan AI perlu memperkuat kemampuan mendasar seperti berpikir kritis, komunikasi, kemandirian, kecerdasan emosional, dan tanggung jawab sosial.

Keenam, membangun kepercayaan melalui penggunaan AI yang etis dan perlindungan yang kuat. Hal ini mencakup perlindungan privasi data, akses sesuai usia, inklusivitas, transparansi, akuntabilitas, serta tanggung jawab dalam penggunaan dan pencantuman kepenulisan.

Ketujuh, melindungi otonomi dan penilaian profesional guru. Guru harus tetap menjadi pengambil keputusan dalam memilih, merancang, menerapkan, mengevaluasi, dan menyempurnakan perangkat AI yang digunakan di kelas, bukan sekadar menjadi pelaksana teknologi yang ditentukan pihak lain.

Kedelapan, memastikan akses yang adil terhadap perangkat AI berkualitas. Kebijakan perlu memperhatikan keberagaman bahasa, konteks lokal, aksesibilitas, dan keterbatasan sumber daya agar penggunaan GenAI tidak memperlebar kesenjangan pendidikan.


Galaczi menjelaskan, guru yang berhasil bereksperimen dengan AI di ruang kelas cenderung memprioritaskan pertimbangan profesional, praktik pembelajaran yang berpusat pada manusia, serta literasi AI kritis.

“Dengan mengikuti langkah tersebut, kita dapat memastikan bahwa AI menjadi alat yang efektif dan digunakan secara bertanggung jawab untuk mendukung proses pengajaran dan pembelajaran, bukan menjadi penopang yang justru mendorong jalan pintas dalam belajar,” katanya. (MTM)


0 Komentar